Di balik peristiwa bom yang kembali mengguncang kembali negeri kita ini , kita patut kembali menginstropeksi diri terhadap kejadian ini. Tentunya perisitwa yang terjadi di hotel kelas wahid bukan lah pekerjaan yang kita anggap sebelah mata. Pengamanan yang ekstra ketat ternyata belum mampu menghindarkan dari tindakan terorisme. Musuh terbesar ada di hadapan mata kita tentunya setelah kita berhasil mengalahkan musuh yang sebenarnya yaitu diri kita sendiri. Selama bangsa kita hanya mampu mengkambing hitam dan menuduh pihak-pihak tertentu, kita tetap akan berjumpa dengan tindak terorisme lainnya. Saya berdoa semoga korban dan keluarga diberi ketabahan dan kesabaran. Jayalah negeriku jayalah bangsaku.
Sebagai pelipur lara dan kekecewaan saya yang mendalam atas kebatalan kedatangan MU , saya tampilkan foto-foto yang saya ambil dari situs sebelah” kaskus”.



Posted by hermawanbudyanto
Beberapa hari yang lalu teman saya memberikan sebuah novel yang menarik. Novel itu berjudul ” Gading-gading ganesha”. Dari melihatnya secara sekilas kita akan melihat gerbang depan sebuah institut teknologi nasional pada halaman cover. Novel ini bercerita tentang perjuangan 5 orang mahasiswa beserta dilema-dilema kehidupan yang dipilih masing-masing tokoh baik saat menjadi mahasiswa ataupun setelah lulus. Idealisme mahasiwa tentu akan sangat berbeda dengan kehidupan yang akan kita temui setelah kita terjun ke masyarakat. Ada beberapa hal menarik dalam novel ini salah satunya bercerita tentang bagaimana kekejaman orde baru dengan memaksa tentara untuk menduduki kampus dan menghabisi mahasiswa-mahasiswa dengan brutal bak penjahat perang. Dermawan Wibisono menceritakacerita ini dengan alur yang tidak monoton, disamping sarat muatan moral dan ideologi kemahasiswaan menjadikan buku ini layak dibaca oleh semua kalangan tidak menjadi konsumsi segelintir insan gajah duduk.

